Pada suatu hari ada anak remaja ABG yang sedang ingin tahu segalanya, seluk beluk tentang wanita. Dia ingin tahu sekali sehingga menjadikannya anak yang terlampau nafsu berlebih jika melihat wanita cantik, dan segera berkhayal yang agak jorok. Pada suatu saat anak itu sedang menggalau ria di belakang kelas, setelah dia di tolak oleh seseorang yang menurutnya special di matanya. Yaitu gebetan yang dia incar selama ini, sayang dia menggalau cuma sendirian dan tidak ada satu temanpun menghiburnya di kala hatinya gundah gulana. Saat dia pulang kerumah jalan kaki dengan hati yang hancur berkeping-keping, sampai-sampai amarahnya tak tertahan hingga menendang sebuah kaleng. Kaleng itu ternyata bukan sembarang kaleng, kaleng itu adalah kaleng ajaib yang berisi jin yang tidur selama 666 tahun. Karena guncangan yang hebat akhirnya dia terbangun, dan barang siapa yang telah membangunkan jin itu dia akan menjadi tuan dari jin kaleng tersebut. Di pematang sawah remaja itu ketakutan melihat jin tersebut sehingga dia lari, tak lama kemudian jin kaleng mengejar anak itu dan menjelaskan keberadaannya.
Setelah menjelaskan panjang lebar, anak itu meminta suatu permintaan kepada jin. Jin kaleng pun hanya berjanji memberi tiga permintaan saja kepada anak itu dan setelah terkabul semua jin itu lenyap. Timbul pikiran negatif dan konyol dari anak itu. Permintaan pertama dari anak itu adalah dia ingin menjadi penghisap darah, yang pertama dia ingin jadi nyamuk, karena dia bebas pergi kemanapun hinggap di tubuh seseorang. Sampai-sampai dia menguntit gebetannya kemanapun dia pergi, bahkan kekamar mandi atau ganti baju. Tapi naas sial dia di tepok oleh tangan ayah gebetannya sewaktu asik nonton TV. Lalu dia mati, dan dia datang kepada jin untuk meminta permintaan kedua yaitu dia ingin jadi kelelawar.
Permintaan kedua pun di kabulkan jin kaleng, anak itu segera masuk rumah gebetan nya untuk nongkrong dikamarnya. Tapi sial datang lagi, yang namanya perempuan takut pada hewan yang mengerikan. Berteriaklah dia sambil bawa sapu hendak memukul kelelawar itu, lalu kelelawar itu bingung kabur lewat mana karena pintu sudah di tutup semua. Dengan pasrah anak itu mati untuk kedua kalinya dan masih tersisa satu permintaan lagi. Anak itu geram karena tidak ada cara lain untuk memuaskan nafsunya. Lalu dengan ide pintar dan joroknya, anak itu meminta permintaan terakhirnya untuk jadi sebuah pembalut. Meskipun bukan hewan penghisap darah, pembalut juga alat penghisap darah yang khusus dan punya perlakuan special. Ya cara mudah dan cepat untuk memuaskan nafsunya dengan langsung melihat bagian surga para kaum lelaki. Dan saat-saat itu yang di nantikan sang anak nakal ini, beberapa hari berada dalam surga yang ia dambakan. Tapi keberuntungan tidak menyertainya lagi, setelah masa mens si gadis itu selesai anak itu dibuang lalu di bakar. Dia mati karena ulahnya sendiri yang ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang instan dan menuruti hawa nafsu tanpa memikirkan akibatnya. Permintan sudah habis, saatnya jin kaleng pulang ke negerinya.
Pesan moral yang bisa gue petik dari cerita diatas jangan lah mengeluh dengan keadaanmu, apapun itu entah sedih, dirundung duka lara, tetaplah banyak-banyak bersyukur karena hidup ini adalah pemberian yang maha kuasa. Gunakanlah dengan baik dan bermanfaat kehidupan yang telah diberikan untuk berbuat baik kepada orang lain, beribadah kepada-Nya dan sebagainya. Jangan mengikuti hawa nafsu duniawi, memakai jalan pintas, semakin mengeluh dan menggerutu itu tidak akan memberi jalan keluar untuk merubah keadaan. Yang ada hanya akan menghancurkan dirimu sendiri, sesakit apapun keadaanmu jangan lah kita lupa bahwa kita punya Tuhan yang bisa menolong, menjaga, memberi arah yang lebih baik. Hidup ini bukan tentang duniawi atau uang yang kita kejar, tapi mengharap ridhlo dari yang maha kuasa. Jangan jadikan uang dan duniawi itu sebagai sebuah "tujuan" tapi hanya sebagai "alat". Karena uang dan duniawi tidak akan di bawa mati, melainkan amal ibadah kita yang akan kita bawa nantinya. Orang-orang yang bersyukur adalah orang yang selalu ingat jalan pulang.
"Jangan pernah berhenti mengucap syukur, sekecil apapun itu pemberian-Nya"