Home

Friday, November 15, 2013

“Utang duit bisa dibayar. Utang rasa gimana mbayarnya."

Utang duit bisa dibayar. Utang rasa gimana mbayarnya."
Itulah kata-kata mbah Sudjiwo Tedjo di twitter yang masih terngiang-ngiang di telinga saya. Entah apa yang di pikirkan manusia sekarang tentang hidupnya yang sebenarnya kita itu utang rasa kepada semua orang, bahkan Tuhan. Kita lihat saja, kita ada di dunia berasal dari apa ? Dahulu kita sebelum dilahirkan kita berbentuk jabang bayi "siapa yang membentuk wahai manusia ?" Dan kita dilahirkan lewat mana wahai manusia ?

Secara tidak langsung kita telah "berhutang rasa" kepada Tuhan yang telah menciptakan kita, ibu yang melahirkan, merawat, membesarkan, mendidik, dan mengasihi kita. Inilah yang sebenarnya aku cari dan selalu kutanyakan kepada diriku sendiri dikala menjelang tidur. Bahkan aku tak tertidur karena hanya satu buah pertanyaan sederhana. "Gimana ya, cara membayar hutang rasa itu ? Lalu dengan apa aku harus membayarnya ?'' Itu lah pertanyaan yang sering membuatku tak tertidur sampai fajar menjelang di ufuk timur.

Saat saya di terminal perjalanan menuju ke jogja, tiba-tiba saya ingin buang air kecil dan saya mengitari seluruh terminal ternyata susah mencari toilet umum di terminal. Akhirnya saya coba bertanya kepada salah satu penjual di terminal tersebut. Setelah di kasih tahu ada di pojok persis, saya langsung lari menuju toilet untuk membuang air kecil, setelah itu lega dan saya langsung membayar di kotak kas.

Nah, seandainya saya tidak menemukan toilet, saya pasti punya gejala kencing batu dalam jangka panjang. Karena waktu oper bis kita tidak turun sama sekali dalam perjalanan dan perjalanan dari semarang menuju jogjakarta sekitar 4 jam. Kebayang jika saya tidak bertemu sama ibu penjual makanan itu yang telah memberitahu saya. Bagaimana saya membalas "utang rasa" ini karena ibu si penjual sudah membantu memberitahuku toilet itu berada ? Dan bagaimana pula saya membalas "utang rasa" tukang penjaga toilet, yang telah menyediakan tempat untuk orang-orang dan saya sendiri dalam membuang hajat ? Seandainya tidak ada kita semua pasti akan kerepotan.

Apakah kalian pernah berfikir dua kali tentang hal kecil semacam ini ?
Sungguh berjasa sekali orang-orang seperti ini, dan kita patut menghargainya walaupun mereka orang kecil tapi berarti untuk semua orang, bahkan siapapun juga.
Kita semua pasti mempunyai utang rasa dengan siapapun, bahkan dengan Tuhan. "Jadi utang rasa itu lebih tinggi dari pada utang duit, karena "rasa" tidak bisa di ukur seperti "duit".

No comments:

Post a Comment